FARMASea Berbagi Cerita Bersama Maba 2013

FOTO BERSAMA - Maba IK 2013 berfoto bersama dengan pengurus FARMASea

FOTO BERSAMA – Maba IK 2013 berfoto bersama dengan pengurus FARMASea

Unit Kegiatan Kemahasiswaan FARMASea sebagai salah satu UKK di FPIK khususnya di Jurusan Ilmu kelautan (IK) berbagi cerita dan pengalaman dengan mahasiswa baru IK 2013 pada kegiatan yang bertajuk Temu UKK dengan Maba Kelautan 2013.

Acara yang berlangsung pada tanggal 18 September 2013 pukul 18.00 WIB tersebut mengambil tempat di kampus FPIK Undip tembalang, Semarang. Kegiatan yang diorganisir oleh rekan-rekan Maba IK 2013 ini merupakan rangkaian ‘kunjungan’ mereka ke berbagai UKK yang ada di Jurusan IK.

Dari FARMASea dihadiri oleh ketua Faisal Islami beserta anggota FARMAsea lainnya yang turut meramaikan kegiatan tersebut. Mulanya pengurus FARMASea memperkenalkan dirinya masing-masing. Lalu dilanjutkan dengan Maba.

Dalam acara tersebut, banyak informasi yang disampaikan oleh jajaran pengurus FARMASea. Bahkan diantara Maba setelah mendengar pemaparan tentang FARMAsea dan bidang yang digelutinya, ada diantara mereka yang sudah berminat untuk masuk ke UKK FARMASea.

Setelah berlangsung kurang lebih 3 jam, acara temu maba dengan UKK FARMASea selesai dan diakhiri dengan foto bersama. (AK20)

Pendaftaran Research Journey 2013

RJ 2013Research Journey (RJ) merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh FARMASea Ilmu Kelautan Undip bersama mahasiswa yang bertujuan untuk membuka wawasan para mahasiswa tentang manfaat biota laut, serta sebagai ajang pelatihan melakukan penelitian yang bermanfaat serta menyenangkan.

Pelaksanaan:
20 – 22 September 2013
Semarang – Panjang Island, Jepara

Acara:
– Seminar Nasional “Marine Waste for Blue Industries”
– Sampling, pembuatan produk dan uji antibakteri
– Trip ke Museum dan Monel, Jepara

Pembicara:
– Ganjar Samudro, ST.MT (Dosen Teknik Lingkungan Undip)
– Dr. Ir. Delianis Pringgenies, M.Sc (Dosen Ilmu Kelautan Undip)

HTM:
RP 35.000 (Seminar)
Rp 185.000 (RJ+Seminar)
Pembayaran bisa via Rekening ke 1447-01-000249-50-2 (Bank BRI) a.n. Ni Komang Tri Utami

Fasilitas:
– Penginapan
– Co-Card
– Kaos
– Seminar Kit
– Sertifikat

Pendaftaran:
25 Agustus – 16 September 2013
Kantor FARMASea (KFsea) Jl. Sumurboto Baru No. 4C Banyumanik, Semarang
atau kunjungi stand pendaftaran di Kampus FPIK Gedung E

CP:
Adi Laksono (083842971817)
Yulfa (085725904101)

FARMASea Kirim Delegasi Hadiri NPSea Conference di Machung University

MPA CONFERENCE - Suasana

NPSea CONFERENCE – Suasana NPSea Conference di Machung University

FARMASea Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro mengirimkan 4 wakilnya menghadiri konferensi bertajuk “NPSea Conference” di Machung University. Mereka  adalah Muhammad Ilhanul Hakim, Isnaningsih, Herbuana dan Adi Laksono.

NPSea Conference yang diselenggarakan di Machung University di kota Malang pada 12-13 Juli 2013, Jawa Timur ini merupakan tindaklanjut dari undangan yang disampaikan salah satu pembicara pada SEMNAS FARMAsea sebelumnya.

NPSea Conference ini diisi oleh berbagai pembicara baik dari dalam maupun luar negeri. Mereka adalah Prof. Cogdell dari Glasgow University, Prof. Richard J Cogdell, Prof. Hideki Hashimoto dari Osaka University, Prof. Bruno Robert,  Dr. Donald Siahaan,  Dr. Hugo Scheer dari University of Munich, Prof. Dr. Sherry A Tanumihardjo dari University of Wisconsi, Madison dan Tony Liwang dari PT. SMART tbk.

Selain pembicara – pembicara internasional diatas, tak ketinggalan pula dosen dari Undip yang juga pembina dan pemerhati di UKK FARMASea, Prof. Dr. Ocky Karna Radjasa dan ibu Delianis Pringgienis. Dalam kesempatan ini pula, diadakan kompetisi poster ilmiah. Pada kompetisi poster ilmiah ini tim dari FARMASea juga mengirimkan karyanya dan sempat memancing perhatian dari beberapa pembicara luar negeri diatas. Meski, pada saat pengumuman tim dari FARMASea belum berhasil juara.

Walau demikian, pengalaman akan keikutsertaan tim FARMASea sebagai UKK yang bergerak dibidang farmakologi biota laut tak akan bisa dilupakan. Karena di NPSea Conference ini banyak membahas mengenai potensi biota laut yang dipandang dari segi farmakologi dan bioteknologi terbarukan. (AK20)

NASAFOR Gandeng FARMASea Kembangkan Riset Kolaborasi

Langkah-8-300x142

Lampiran master plan MoU riset kolaborasi antara UKK FARMASea dan UKM NASAFOR

Nano Sains Forum (NASAFOR) sebuah UKM eksternal yang bergerak di bidang riset teknologi nano menjalin kerjasama dengan Unit Kegiatan Kemahasiswaan (UKK) FARMASea Ilmu Kelautan Undip untuk mengembangkan riset kolaborasi.

Bentuk kerjasama antara kedua belah pihak diatas sudah diteken melalui MoU (Memoradum of Understanding) antara NASAFOR dengan UKK yang berkecimpung di dunia farmakologi biota laut itu sejak Sabtu, 15 Juni 2013 di Kesekretariatan FARMASea.

NASAFOR menimbang visi yang diusung FARMASEa memiliki korelasi dan latar belakang yang sangat kuat dan sejalan dengan lembaganya. Alasannya, salah satunya adalah potensi kearifan lokal yang dimanfaatkan khususnya untuk potensi di bidang kelautan/bahari maupun pertanian masih sangat jarang sekali implementasinya khususnya pengembangan dibidang riset teknologi nano.

Maka dari itu dengan adanya sinergisitas antara UKK FARMASea  dan lembaga riset UKM NASAFOR mampu terciptanya suatu produk olahan karya anak bangsa yang selanjutnya akan dikompetisikan di ajang perlombaan karya tulis ilmiah, PKM dan ide bisnis nasional. (AK20)

Misteri Rumput Laut Yang Belum Terpecahkan

rumput-lautSebagai negara yang terletak diantara dua benua sekaligus sebagai negara maritim, Indonesia mempunyai kekayaan alam yang sungguh tak ternilai harganya. Salah satunya adalah ekosistem rumput laut (seaweed).

Tumbuhan laut yang sering digunakan sebagai pelengkap es buah itu memang sangat mudah dijumpai dipasaran. Meski sudah banyak peneliti yang menguak kandungan dan manfaat rumput laut, ternyata hingga saat ini ada yang belum  terpecahkan. Yakni kandungan rumput laut yang membuat hewan mencit (sejenis tikus-red) selalu bersifat “hyperaktif”.

Hal itu disampaikan oleh Dr. Ir. Delianis Pringgenies, M.Sc pada sebuah perkuliahan dengan mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan Undip belum lama ini. Bu Del (sapaan akrab bu Delianis-red) mengatakan hal demikian mengenai perilaku mencit yang hyperaktif. Bahkan pada waktu yang seharusnya digunakan untuk tidur, hewan ini justru terus bergerak jika diberi makan rumput laut.

Beliau mengatakan, sampai saat ini belum ada penelitian ilmiah yang bisa memecahkan pengaruh dari kandungan rumput laut yang membuat mencit bergerak di dalam aktivitasnya hingga diluar batas. (AK93)

Tekuk Register, FARMASea Melaju ke Final HMIK Cup

HMIK CUPUnit Kegiatan Kemahasiswaan (UKK) FARMASea berhasil melaju ke final HMIK CUP 2013 setelah menekuk salah satu tim kuat Register lewat drama adu penalti. Pada laga yang berlangsung di Calcio Futsal Arena tersebut, diawal pertandingan masing-masing team bermain dengan skor imbang 1-1. FARMASea sempat unggul 2-1 setelah ketua umum UKK tersebut, Faisal Islami menyumbang 1 gol.

Tersengat 1 gol dari Ichal (Sapaan akrab Faisal Islami-red), Register langsung meningkatkan intensitas permainannya. Hasilnya, Register berhasil membalas lewat 1 gol yang dicetak Willy. Skor imbang 2-2 untuk kedua tim. Tak sampai disitu, UKK yang bergerak dibidang penginderaan jauh tersebut bahkan mampu membalikkan keadaan menjadi 3-2 lewat gol yang dicetak oleh Oscar jelang turun minum.

Pasca turun minum, FARMASea langsung menggebrak sejak awal pertandingan untuk mengejar defisit goal. Hasilnya, FARMASea berhasil menyamakan kedudukan lewat goal yang dicetak oleh Ryan. Skor imbang menjadi 3-3 untuk kedua tim. Skor tersebut tak berubah hingga wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan.

Skor imbang, laga pun dilanjutkan dengan adu penalti. Pada drama yang memerlukan mental dan kepercayaan tinggi diri ini, FARMASea akhirnya berhasil memenangi adu penalti melawan Register dan lolos ke partai puncak HMIK Cup 2013. (AK)

Luar Biasa, Obat Sinusitis Ditemukan di Laut

sinusitisSaat sedang melakukan penelitian untuk mencari cara membersihkan lambung kapal, peneliti malah menemukan secercah harapan untuk mengatasi sinusitis.Yakni menggunakan enzim yang dipisahkan dari Bacillus licheniformis, sebuah bakteri laut yang biasa ditemukan di permukaan rumput laut.

Pada laporannya yang dipublikasikan di jurnal PLoS One, Nicholas Jakubovics, peneliti dari Newcastle University, Inggris, menyebutkan, dalam banyak kasus sinusitis kronis, bakteri membentuk sebuah biofilm. Biofilm ini merupakan lapisan lendir pelindung yang mengamankan mereka dari semprotan obat ataupun serangan antibiotik. Dengan adanya lapisan ini, sangat sulit membersihkan bakteri dari sinus.

Dalam eksperimen, ternyata enzim yang disebut dengan NucB yang ditemukan peneliti mampu menghancurkan 58 persen biofilm pelindung bakteri penyebab sinusitis. “Enzim ini mampu memecah ekstraselular DNA yang bertindak seperti lem yang mengikat sel-sel pada permukaan sinus. Di lab, NucB mampu membersihkan lebih dari separuh organisme yang kami coba,” ucap Jakubovics.

“Sinusitis merupakan penyakit yang sangat banyak menyerang. Bagi banyak orang, gejalanya mulai dari hidung tersumbat, pusing kepala terus menuers, hilangnya indera penciuman, sampai sakit di wajah,” kata Mohamed Reda Elbadawey, pengamat dari Freeman Hospital.

“Meski bagi sebagian orang semprotan steroid ke hidung bisa mengatasi, dari pasien yang saya lihat, mereka itu tidak efektif dan para pasien perlu menjalani operasi,” ucapnya. Jika kita bisa mengembangkan cara pengobatan alternatif, kata Elbadawey, kita bisa membawa manfaat bagi ribuan pasien per tahun.

Dalam studi terdahulu terhadap bakteria laut Bacillus licheniformis, tim peneliti yang diketuai oleh Grant Burgess menemukan bahwa saat bakteria ingin berpindah, mereka melepaskan enzim yang akan menghancurkan DNA eksternal, menghancurkan biofilm dan melepaskan para bakteria dari jaringan.

Saat enzim NucB dimurnikan dan ditempatkan pada lapisan biofilm, ia mampu dengan cepat merontokkan lapisan berlendir tersebut, membuka pertahanan sel bakteri, dan membuat mereka ringkih terhadap serangan.

Kini, langkah yang akan diambil para peneliti adalah untuk menguji coba lebih lanjut serta mengembangkan produk yang sekiranya mereka bisa kerjasamakan dengan industri kesehatan.

(Sumber: Phys.org, NationalGeographic)